Artikel Terbaru

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

twitter

Minggu, 09 September 2012

Menanti matahari esok pagi 2

Tini muncul di ruang tamu.Kulihat ia masih seperti dulu,hanya tampak
lebih dewasa dan agak kurus.
"apa kabar,Tin?",tanyaku sambil mengulurkan tangan.Tini tersenyum
menyambut tanganku.
"kukira kau tidak akan datang,"katanya. "Bagaimana kabarnya Bapak
kepala sekolah?"
Aku tersenyum kecut. Aku tahu,tentu ia bermaksud menghilangkan
kecanggungan diantara kami.Kami kemudian terlibat pembicaraan masa
lalu,tapi berusaha menghindarkan perseoalan hubungan pribadi.Tampaknya
Tini juga begitu rapi menyimpan perasaanya.Sikapnya tak lebih dari
seorang teman.Memang,kini kami hanya teman biasa.
Namun anehnya,sejak saat itu aku senang berkunjung kerumahnya. Ada
perasaan damai jika aku berada di dekat Tini.Apakah aku masih
mencintainya?Bagaimana dengan Tini sendiri?Tidak! aku tak boleh
berpikiran macam-macam.Aku telah mengubur semua kenangan lama itu di
bawah sadarku.Mengapa kini harus dibongkar kembali?
"Kau belum juga beristri,Man,"kata Tini suatu saat.
"Tak ada yang mau jawabku acuh tak acuh.
Tini menatapku sesaat.Ia tersenyum,tapi aku tak berhasil menebak perasaanya.
"Atau barang kali kau sendiri terlalu banyak memilih?",kata Tini
mencoba memancing perasaanku.
"entahlah Tin,tapi yang jelas aku bukanlah hipokrit.Aku tak bisa
mengawini orang yang tak bisa kucintai".
"Kau menyindirku?",tanya Tini tersinggung."Aku memang lemah,tak punya
pilihan selain menuruti keinginan kedua orang tua.Dan kini aku semakin
lemah,aku hanyalah seorang janda."
Kulihat tini menundukan muka.Ada setitik air bening di
matanya.Oh,rupanya aku telah melukai hatinya.Aku sungguh menyesal.
"Maafkan Aku Tini,Aku tak bermaksud menyinggung perasaan Mu,"kataku.
"Tidak apa-apa.Barang kali akulah yang terlalu perasa,"jawabnya sambil
tersenyum.
Ternyata aku tak bisa mengingkari kenyataan,aku masih mencintai
Tini.Perasaan yang telah terkubur sekian lama,kini mulai bersemi
kembali setelah aku sering menjumpainya.Dia memang telah menjadi
janda,tapi apa perduliku?Cinta tak memandang status.Sekian lama aku
menggapai cinta,terhempas karena status diriku yang belum
menentu,mengapa kini setelah Tini berada dalam jangkauan aku harus
mempersoalkan status dirinya?

"tidak!",kata ibuku,ketika aku menyampaikan hal itu kepadanya."kau
dulu telah dihinakanya.Bagaimana mungkin kini kau berniat
mengawininya?"nafas ibuku terdengar di antara suaranya.
"Tini tak pernah menghinaku,Bu,"aku berusaha membelanya.
"Dia hanya menuruti keinginan orang tuanya."
"Ah,sama saja Herman. Keluarga itu tak memandang sebelah mata kepada
kita." Ibu tetap ngotot dengan pendirianya."kini setelah kau jadi
sarjana dan ada kedudukan,sementara dia telah menjadi janda dan punya
anak,dia datang kembali untuk menjeratmu."
Aku terdiam mendengar kata-kata ibu.Begitu menyakitkan,tapi aku tak
dapat menyalahkanya.Sebagai seorang ibu,mungkin ia tak dapat melupakan
kepedihanya,ketika anaknya ditolak oleh keluarga Tini.
"Ibu memang menyuruhmu berkeluarga,"nada suara ibu kembali datar."tapi
bukan dengan Tini.Masih banyak gadis lain yang mengharapkanmu."
Barangkali kata-kata ibu benar,setidaknya menurut fikiranya. Dan
aku?Sudah kucoba berhubungan dengan beberapa gadis,tapi aku tak bisa
mencintainya walaupun mereka banyak memberi harapan.Satu-persatu
mereka pergi membawa kekecewaan.Agaknya kecintaanku kepada Tini telah
menutup pintu hatiku bagi gadis lain.Atau barangkali kegagalanku telah
menjadikan semacam trauma bagi diriku.Kedengaranya memang aneh,tapi
inilah kenyataan yang kualami.
Setelah pembicaraan dengan ibu menemui jalan buntu,aku tak lagi
mengunjungi Tini.Sepulangnya dari SD,waktuku kini kuhabiskan untuk
mengajar di beberapa SMA swasta.Aku ingin mengusir semua kegelisahan
dengan kegiatan yang positif,semacan konpensasi begitu.Kukira ini
lebih baik daripada aku termenung memikirkan dilema yang tak pernah
berujung pangkal.
Dengan kesibukanku,aku sedikit dapat melupakan Tini.Namun akibatnya
aku jatuh sakit,beberapa hari aku terbaring di kamarku.Kata dokter
yang memeriksa aku harus banyak istirahat.
"Kau terlalu capek,Man,"kata Ibuku."Bekerjalah sewajarnya.Untuk apa
kau bekerja terlalu keras?"
pertanyaan Ibu memojokanku.Ya,untuk apa? Aku tidak punya
keluarga.Satu-satunya tanggunganku hanya ibu.Mungkin ini hanya
pelarian.Mengapa harus lari dari kenyataan? Pengecut!Hati kecilku
mengutuk.Bangkit,dan hadapilah semuanya dengan berani! Aku mencoba
bangkit,tapi badanku terasa lemah sekali. Tulang-tulangku terasa
nyeri. Oh!
Kudengar suara ketukan di pintu. Ibu tergesa-gesa ke depan.Beberapa
orang anak muridku datang,kulihat Rina ada diantara mereka. Sebuah
bungkusan diserahkan anak-anak kepada ibu,barangkali kue atau
apa.Kulihat ibu memandang Rina tak berkedip.Anak itu merasa rikuh.
"Dia anak Tini,namanya Rina",kataku menjelaskan,sementara hatiku berdebar cemas.
"Oh,sudah sebesar ini?", tanya ibu sambil memegang Rina."cantik
seperti ibunya," ibu memandangku sambil tersenyum.
Rina menundukan muka sambil tersipu-sipu.Aku tak mengerti maksud ibu.
Bukankah ia begitu benci kepada Tini? Apakah ia bermaksud menghinanya
dengan kata-kata itu?Kukira tidak.Nada suaranya terdengar tulus dan
jujur.Aku semakin kebingungan.
Ibu masih terus memperhatikan Rina,mungkin ia merasa sedang berhadapan
dengan Tini.Matanya yang bulat,rambutnya yang agak ikal,kulit tubuhnya
yang kuning langsat,dan senyumnya yang menawan telah membuat Rina
sebagai duplikat ibunya.Namun sayang kini tak punya ayah lagi.
"Neng Rina,ajaklah ibumu main kemari,"kata ibu tiba-tiba.Hatiku
berdebar keras."Ibu ingin sekali bertemu."
"Ibu,mengapa dia disuruh ke mari?"

Menanti matahari esok pagi

Rina tersipu malu,ketika aku memandangnya.Gadis kecil itu baru sehari
menjadi muridku,pindahan dari bandung.Ada sesuatu yang menarik pada
diri Rina,dan hal itu sempat membuat aku terpana ketika pertama kali
melihatnya.Betapa tidak,gadis berusia dua belas tahun itu telah
membangkitkan ingatanku pada peristiwa lima belas tahun yang
silam,saat aku mengukir keceriaan masa remajaku bersama tini.Tini
adalah teman sekelasku di SPG dulu.Dan Rina muridku itu mirip sekali
dengan Tini.Belakangan kuketahui,ternyata Rina adalah anak tunggal
Tini.
Sejak Rina menjadi muridku di kelas enam ini,aku mudah dihinggapi
perasaan gelisah.Kegelisahan ini makin menghantui manakala aku
memandang Rina.Wajah anak ini dalam sekejap dapat berubah menjadi
wajah Tini,ibunya.Padahal antara aku dan dia kini tidak ada apa-apa
lagi.Hubungan kami berakhir ketika Tini menikah dengan seorang ABRI
pilihan orang tuanya.Sejak itu Tini ikut bersama suaminya di
Bandung.Aku tak mendengar kabar apapun tentang dia,hingga kemudian
Tini kembali mengikuti orang tuanya di Cirebon ini.Kudengar nasib Tini
kurang beruntung.Suaminya kang Budi kabarnya telah meninggal karena
kecelakaan beberapa bulan yang lalu.Tini kini telah menjadi janda.
Lonceng istirahat telah berbunyi.Anak-anak berhamburan keluar
kelas.Aku sedang menilai hasil pekerjaaan anak-anak,ketika Rina datang
menghadap.
"Ada apa Rina?", tanyaku tanpa menghentikan pekerjaanku.
"Ada pesan dari ibu,pak",jawab Rina.
Aku tersentak."pesan", kutatap Rina lekat-lekat.Anak ini segera
menundukan mukanya.
"jika ada waktu,ibu mengharap Bapak dapat main ke rumah," Rina berkata
perlahan.Namun kata-kata itu terdengar keras di telingaku."kata Ibu
pak Herman dulu teman sekelas ibu",sambungnya. "ya...ya...ya
Rina,sampaikan terima kasih pada ibumu,"kataku gugup."Bapak akan main
ke rumahmu kapan-kapan".Aku berbasa-basi.
Aku termangu-mangu sepeninggal Rina.Rupanya Tini telah bercerita
banyak tentang diriku kepada anaknya.Ah,Tini apalagi yang kau
inginkan?Aku telah bersusah payah melupakanmu selama ini,ternyata
kini kau datang lagi dengan membawa persoalan baru bagiku.
Lima belas tahun yang lalu,aku memang sering datang ke rumah
Tini,terlalu sering bahkan.Hal ini membuat kedua orang tuanya
curiga.Akhirnya mereka mengetahui bahwa hubungan kami bukan sekedar
teman,tapi lebih dari itu.
"Nak Herman,kelihatanya Nak herman dengan Tini begitu akrab,"kata
ibunya saat itu.
"Ya
Bu",jawabku pendek
"ibu khawatir ini akan mengganggu pelajaran kalian.Bukankah sebentar
lagi ujian?"
saat itu aku hanya tertunduk.Tini juga.Kudengar ayah Tini batuk-batuk
kecil.Orang tua itu asyik menikmati pipa tembakaunya sambil membaca
koran.Kelihatanya acuh tak acuh,tapi aku yakin dia pun ikut menyimak
pembicaraan kami.
"Ibu tak ingin kalian gagal,terlebih lagi Tini.Calon suaminya ingin
segera menikahinya begitu Tini lulus ujian."
"Ibu! Apa maksud Ibu?",pekik Tini.Aku juga kaget seperti mendengar
bunyi petir.Tak kusangka sedikit pun,rupanya Tini sudah punya calon.
Benar Tini.Kang Budi kini telah lulus AKABRI dan mendapat tugas di
Bandung.Kemarin orang tuanya datang melamarmu,tentu saja ibu
menerimanya.Bukankah keluarga itu sudah kita kenal sejak lama? Lagi
pula Kang budi adalah pemuda yang baik dan punya masa depan. Ibu yakin
kau tentu akan berbahagia menjadi istrinya."
Ibu Tini menjelaskan semuanya tanpa menghiraukan perasaanku.Aku
maklum,keadaanku yang belum menentu tak memungkinkan aku untuk
mendampingi Tini. Apa yang dapat diharapkan dari laki-laki seperti
aku? Orang tua Tini tentu tak akan rela membiarkan anak satu-satunya
terjerumus ke dalam ketidakpastian nasibku,senentara Budi dengan
seribu janji dan harapan telah siap menantikanya.Aku merasa tak
memiliki masa depan.Semuanya kabur dan absurd,bahkan gelap sama
sekali.Ah,terlalu pesimistis agaknya,tapi itulah kenyataan.
Kini dalam usiaku yang ketiga puluh tiga aku masih tetap sendiri,Ibuku
sudah berulang kali menyuruhku berumah tangga,tapi aku belum menemukan
yang cocok. Barangkali aku terlalu banyak memilih,entahlah!
"Sungguh aku tak mengerti dengan sikapmu,Man,"kata ibuku suatu
saat."kau selalu menjawab nanti dan nanti. Setelah menjadi
sarjana,setelah diangkat menjadi kepala sekolah,terus apa lagi?"
Aku diam saja saat itu. Semuanya menang sudah kuraih.Gelar sarjana
pendidikan dari Universitas di kotaku telah mempercepat karierku
menjadi kepala sekolah.Namun,ternyata ibuku masih menuntut yang lain
dariku,menikah.
"Adik-adikmu sudah berumah tangga semua.Tinggal kau,Man,"kata ibu
memperkuat tuntutanya."Ayahmu sudah meninggal,dan ibu pun sudah tua.
Kalau ibu tidak ada siapa yang mengurusmu?"
kulihat mata ibu berkaca-kaca,disusutnya dengan ujung kebayanya.Aku
tak menyangka kalau sikapku ini telah membuat sedih hati ibuku.Namun
apa yang harus kulakukan?

Matahari sudah mulai condong ke barat,ketika aku mengetuk pintu
rumahnya.Rumah itu masih seperti dulu.Bunga-bunga bougenvile yang
tumbuh berwarna-warni di halaman depan rumah itu merupakan saksi abadi
bahwa Aku dan Tini pernah berikrar setia,ketika kami duduk bersama di
kursi teras,lima belas tahun yang lalu.
Ada sedikit perasaan ragu menyelinap di hati,tapi segera
kuhapuskan.Bukankah aku disuruh datang kerumahnya? Namun,hatiku
berdebar juga tatkala pintu rumah itu terbuka.Ternyata Ibu Tini yang
membukanya.Orang tua itu agak kaget melihat kedatanganku tapi kemudian
tersenyum.
"Oh,Nak herman,silakan masuk,"katanya ramah."kemana saja selama ini?"
Aku menjawab sewajarnya. Ibu Tini mempersilahkan aku duduk,kemudian
bergegas pergi ke belakang.

(bersambung)

Jumat, 07 September 2012

Kita adalah pemilik sah Republik ini

Tidak ada lagi pilihan kita harus berjalan terus
karena berhenti atau mundur berarti hancur

Apakah akan kita jual keyakinan kita
Dalam pengabdian tanpa harga
Akan maukah kita duduk satu meja
Dengan para pembunuh tahun yang lalu
Dalam setiap akhiran yang berakhiran:
"Duh Tuhanku"?

Tidak ada pilihan lain.Kita harus Berjalan terus
Kita adalah manusia bermata sayu,yang ditepi jalan
Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh
Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara
Dipukul banjir,gunung api,kutuk dan karma
Dan bertanya-tanya diam inikah yang bernama merdeka
Kita yang tak punya dengan seribu selogan
Dan seribu pengeras suara yang hampa suara

Tidak ada lagi pilihan. lain. Kita harus berjalan terus.
(Taufik ismail)

Rabu, 05 September 2012

Kiai cholil versus adzan

Kiai cholil Bisri biasanya jika sedang berpidato kemudian terdengar
adzan, beliau selalu berhenti dulu dan mengajak hadirin mendengarkan
adzan.
Suatu ketika beliau sedang pidato, tiba-tiba terdengar suara adzan.
Beliau berhenti sejenak dan mengajak hadirin mendengarkan adzan. Tapi
begitu adzan selesai ternyata ada adzan berikutnya bahkan lebih
kencang. Dan ketika adzan kedua ini belum selesai, sudah terdengar
adzan lagi dari pengeras suara yang lain. Dengan berkelakar Kiai
Cholil berkata,"Wah,ini kalau sambung-menyambung terus kita enggak
jadi pidato ini, sudahlah kita teruskan saja ya......." Hadirin
serentak bilang, "Yaaaa....."

modal 10 ribu dapat sejuta

Selasa, 04 September 2012

Bagaimana sebaiknya memerangi kesepian

Kesepian memang terasa begitu mencekam.Seseorang yang telah di
hinggapi kesepian,akibatnya bisa gawat. Kata orang kesepian bukan
berarti kesendirian.Banyak orang yang hidup di keramaian tapi merasa
kesepian. Seseorang yang merasa kesepian,lazimnya merasa begitu
terkucil dari pergaulan.Terkadang ia menjadi salah tingkah karena
sikap hidupnya menjadi tidak komunikatif dengan orang lain,kesepian
itu muncul karena seseorang telah kehilangan rasa percaya diri.
Mereka yang paling mudah dihinggapi rasa kesepian kebanyakan adalah
orang-orang tidak memiliki keberanian untuk berdiri sendiri.Semasa
dulu,ia mendapat perlakuan begitu istimewa yang berlebihan. Misalkan
begini,pada masa sekolah SMU si Radia terlalu akrab dengan
teman-teman dekatnya,pulang sekolah mereka sering mampir di tukang
bakso dan si radia pun sering kali di traktir sama temannya,bahkan
mereka membentuk komunitas, komunitas makan bakso torpedo
bareng,misalnya.
Sehabis pulang pun mereka selalu bermain bersama,sepak bola,ngaliwet
(sunda),ataupun hanya sekedar ngobrol-ngobrol. Itu semua dilakukanya
hampir tiap hari,hanya dengan teman yang itu-itu saja.
Suatu saat ketika mereka lulus dari sekolahan SMU,mereka sama-sama
memilih perguruan tinggi favoritnya masing-masing.
Si Radia memilih UNPAS di bandung sedangkan teman yang lainya memilih
perguruan tinggi di jakarta ada juga yang di jogja.
Si Radia tentunya hidup dalam kesendirian,masih mending kalau ada
orang yang sekampung di tempat perantauannya,mungkin rasa kesendirian
itu bisa dihalau. Teman-temanya yang dulu begitu dekat kepadanya,pasti
berada jauh di tempat mereka berada,walaupun masih bisa Sms-an namun
tetap saja merasa kesendirian apalagi kalau kurang bisa bergaul dengan
teman dan lingkunganya yang baru.
Semasa kesendirian radia seakan-akan kehilangan semangat hidup,ia
merasa terasing dalam sepi (yei,kaya lagu malaysia aja). Dalam kondisi
seperti itu seseorang bisa menjadi frustasi. Berbeda dengan orang yang
telah terbiasa dalam kondisi kesendirian tetapi masih bersipat
komunikatif dengan orang lain.Walau pun sendirian namun sosok kayak
gitu masih mampu mencari jalan keluar.
Rasa sepi dan keterasingan,jangan kita biarkan begitu dominan.
Setidaknya jika kita kebetulan berada pada kondisi itu,buru-buru cari
jalan keluar untuk mengatasinya.
Buat anda yang kadang-kadang merasa kesepian,ada baiknya memperhatikan
langka-langkah pengamanan berikut:
   pertama adalah introspeksi. Anda harus mencoba cari tau mengapa anda
harus kehilangan rasa percaya diri,merasa rendah diri atau tidak tau
lagi apa yang seharusnya di kerjakan. Begitu anda temukan,itu berarti
jalan keluar sudah mulai terbuka.Untuk menolong diri-sendiri tentunya
anda perlu berkomunikasi dengan orang lain. Lalu apa salahnya anda
ceritakan kesulitan anda sebagai upaya meringankan beban.
    Kedua,anda harus senantiasa berfikir positif. Jangan biarkan
berlarut-larut dalan gengaman negatif. Untuk itu perluaslah wawasan
pandangan anda hingga kegairahan itu timbul kembali.
Begitu rasa kesepian hadir,hendaknya anda jangan bersikap pasif atau
menunggu orang lain datang menghibur anda. Upayakan agar anda tetap
menghadapi hidup ini dengan senyum kegembiran,alangkah baiknya mulai
saat ini anda senang bergaul dengan orang lain dan dapat menerima
kehadiran mereka dengan senang hati. Dalam pergaulan,usahakan pula
agar sobat tak perlu menghindar.
    Cobalah untuk tidak memanjakan
diri-sendiri secara berlebihan. Carilah kegiatan yang menarik. Membaca
bukukah,ikut organisasikan jika di kampus atau terserah sendiri.
Obat anti kesepian memang harus dicari walaupun langkah-langkah ini
masih belum lengkap,namun yang pasti anda masih bisa berimprovisasi
untuk mengusir kesepian. Siapa tau resep mujarab bisa sobat temukan
sendiri. 

bisnis online termurah

Senin, 03 September 2012

Borobudur temple from jogyakarta

Borobudur is one of the largest and most beatiful monument in Asia. It
is about 42 kilometres west of jogyakarta or 93 kilometres south of
semarang. Constructed during the golden age of the Sailendra dynasty
in the eighth century and dedicated to the glory of Buddha, it
combines the influences of many rich cultures.
According to the experts,the structure has more than two million
stones and a volume of 55,000 cubic metres. On every floor,along its
corridors there are reliefs depicting various sacred tales that
stretch for about 13 kilometer. There are more than 1.400 stupas and
about 430 statues in the temple.
After centuries of neglect a large part of the monument was overgrown
with moss and lichen,and Borobudur was in danger of disappearing
altogether. Its structure was beginning to crumble because of the
tropical climate,earthquakes,and landslides. Humadity and mould had
also been eating away its sculptures.To save the monument from total
destruction,indonesia requested UNESCO'S help in drawing up an overall
plan for its restorattion. Twenty-seven member states and a large
number of non-governmental organizations contributed more than six and
a half million dollars for that great project. Indonesia provided the
greater part oe the expenditure to rescue the temple.
The project required coordinated work over a period of more than ten
years by hundreds of scientist,archaelogists,technicians and manual
workers. For example,they had to register and move a million blocks of
stones and restore 10,000 more in the body of the monument. On 23rd
february 1983 the restoration was complete. Borobudur can last for
another 1000 years.
For the indonesian people Borobudur is not only temple it is proff
that our foreftthers had achieved a very advansced civilization a long
time ago. Indonesia will continue to develop the environment of the
temple for the purpose of education. The temple,the archaeological
garden,the archaeological museum and the library will draw more
attention from scientists and researchers,as well as tourists.

Minggu, 02 September 2012

'Kobra' sumber penghasilan membawa petaka

Asalamualaikum,sobat blogger, Apa kabar semuanya!
BERMAIN air,tentu basah. Bermain ular, ya terkena bisa.
Sesuai dengan frase itu,artikel ini saya kasih judul 'kobra' sumber
penghasilkan membawa petaka. Tulah itu yang menimpa 'Bablo' alas Amir
kobra,26 tahun. Sekalipun sudah akrab dengan ular kobra hingga
beberapa tahun,binatang itu tetap mematuk juga. Inilah kejadian di
kota madya tanjung balai,sumatra utara.
Hari itu,seperti biasanya, untuk mencari sumber penghasilan. amir
menggelar atraksi bermain dengan ular kobra, aksinya itu merupakan
bagian upaya menarik minat penonton membeli "batu mata"jualanya. Batu
mata itu sendiri di maksudkan untuk menjernihkan mata.
Keahliannya bermain dengan ular berbisa sendiri diperoleh Amir dari
ayahnya,Thalip. Amir kecil sudah terbiasa membantu ayahnya menjual
obat antibisa ular. Sebagai daya tarik,ular-ular itu dibiarkan memagut
tubuh amir. Setelah itu baru diobati dengan antibisa berupa batu dari
pakistan. Dan memang cespleng.Buktinya amir tetap hidup hingga dewasa.
Setelah ayahnya meninggal pada 1981, ia bersama kakaknya,Nasir
mewarisi 182 kobra. Meski ularnya belakangan hanya tinggal empat
ekor,mereka terus berkeliling menampilkan atraksi ular kobra sambil
menjual obat anti bisa. Hasilnya,saban kali usai jualan,ada Rp
30.000-40.000 yang mereka bawa pulang. "cukuplah untuk hidup"kata
nasir.
Tapi nasib tidaklah selalu berpihak kepada Amir kobra,disilah petaka
itu terjadi. Saat atraksi di Tanjung balai,Amir kembali di pagut kobra
yang telah dipiaranya beberapa tahun. Tidak seperti biasanya,kali itu
amir ternyata kelimpungan. Di depan penonton yang jumlahnya puluhan
orang,tubuh amir kejang-kejang.
Oleh penonton,gerakan amir dianggap sebagai bagian dari pertunjukan.
Itu sebabnya tidak ada yang mencoba menolong. Ketika kemudian amir
jatuh tersungkaur ke tanah,penonton cuek saja. Tidak ada satu pun dari
mereka yang menolong. Mereka malah bubar sambil tersenyum.
Keadaan amir kobra sendiri tidaklah membaik. dibagian telinga dan
dadanya memerah. Buntutnya Amir meninggal. "amir lupa membawa
antibisa" kata nasir,ia menyesal kini,karena lupa memberikan batu
antibisa saat adiknya hendak berangkat.
Akan halnya ular kobra yang mematuk amir.Kata nasir,akan
dipeliharanya. Tidak dendam? "kobra itu kan tidak tau apa-apa."
katanya.
(Sumber: Gatra)
modal 10 rb dapat sejuta


       

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More